Tour Denpasar - PadangBay - Lembar - Mataram - Senggigi - Bangsal - GILI TRAWANGAN - Bangsal - Pusuk - Mataram - Lembar - PadangBay – Denpasar
Diawali dengan niat mengantar seorang anggota Dalas asal jerman (Fabian Bule Dekil), berkumpulah beberapa anggota dalas di Markas untuk berdiskusi merencanakan tour dengan tujuan akhir Gili Trawangan. Setelah melakukan rapat terbatas secara alot, maka ditetapkan tour dimulai (start) pada tanggal 25 Februari 2010 pukul 17.00 wita.
Tour diawali dengan berkumpulnya peserta (Adji, Mira, Cakra & Fabian) di Markas Dalas, namun ketika kami hendak berangkat, tiba-tiba seorang dedengkot Dalas (Bang Jefry) menemui kami untuk menawarkan diri menjadi pengawal dengan menggunakan sepeda motor, tentu saja niat baik ini kami terima, karena kamipun sedikit khawatir dengan perjalanan yang cukup jauh.
Dilepas oleh Ketua Dalas Bali Bikers Gang Pak Haji Yoyo beserta anggota lainnya (keluarga pak kaji), pada pukul 17.00 wita kami pun mengawali tour dengan goesan pertama menuju Gili Terawangan.
Walau hujan deras mengguyur kota denpasar saat itu, tidak mematahkan semangat kami untuk tetap menggoes menyusuri jalanan kota denpasar menuju luar kota . Akhirnya hujan berhenti ketika kami mulai menyusuri Jl Bypass Ida Bagus Mantra (ketewel). Terjadi sedikit insiden, salah seorang peserta (Mira) terserempet mobil yang sedang menyalip dari arah berlawanan, yang menyebabkan sedikit luka lecet dan memar. Akhirnya kami memutuskan berhenti sejenak di pantai lebih untuk membersihkan luka dan makan malam.
Usai beristirahat, kamipun melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan padangbai. Setibanya di padangbai, kami beristirahat di rumah kerabat salah satu peserta, yang kemudian dilanjutkan dengan membeli tiket penyebrangan dan antri naik ke ferry. Tiba diatas ferry, kami meletakan sepeda dengan rapih, mencari tempat untuk istirahat dan mencoba untuk memejamkan mata, menunggu tiba di pelabuhan Lembar.
Pagi pun tiba, ferry yang membawa kami mulai menuju dermaga untuk berlabuh. Kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Goesan demi goesan melalui jalanan yang masih sepi kami lalui, setelah 20 Km menggoes, kami pun tiba dikota Mataram. Sempat kami beristirahat di ruko tempat bisnis teman salah satu rekan kami menanyakan kondisi jalur yang akan kami tempuh, tak lama beristirahat, kami lanjutkan perjalanan menuju Senggigi.
Awalnya jalur yang kami tempuh relative datar, namun memasuki wilayah Senggigi, kami dihadapkan dengan puluhan tanjakan yang lumayan berat, sampai-sampai si bule dekil Fabian tidak kuat mendaki tanjakan tersebut (Kata Fabian dengan logat bulenya : “Saya tidak suka tanjakan, saya suka turunan”). Namun semua itu lunas terbayar, kami disuguhi pemandangan luar biasa diatas bukit yang kami daki. Seusai menggoes menuju puncak tanjakan, kami berhenti untuk istirahat sambil menikmati karunia Tuhan, pemandangan yang luar biasa, pantai & laut yang indah dihiasi kapal-kapal nelayan yang sedang mencari ikan.
Kira-kira 50 Km kami menggoes, tanpa terasa kami tiba di pelabuhan kecil bangsal yang biasa digunakan untuk melakukan penyebrangan menuju Gili Terawangan. Setibanya Bangsal, Cakra mengantri diloket untuk membeli tiket penyebrangan, tak lama kemudian diumumkan bahwa semua penumpang untuk naik ke kapal, kamipun menaikan sepeda[h] yang kami bawa ke atas kapal, kapalpun berangkat.
1 jam kami melakukan penyebrangan, tibalah kami di Garis Tujuan Gili Terawangan. Wajah seluruh peserta tampak sumringah, perasaan senang, bangga, bahagia, terharu bercampur, sulit untuk diungkapkan.
Setibanya di Gili Terawangan, kami mencari tempat untuk menginap, tak lama kemudian kami mendapatkannya, setelah bernegosiasi harga, kami pun masuk kedalam kamar dan beristirahat menghilangkan rasa lelah setelah menggoes dengan jarak tempuh 120 Km.
Senja tiba, kesempatan ini tidak kami lewatkan untuk berkeliling pulau dan menikmati sunset di tepi pantai, ternyata…. Lebih indah & romantis menikmati sunset di Gili Terawangan di bandingkan Kuta, Bali . Malammya, kami berkumpul untuk makan malam & ngobrol membicarakan kesan perjalanan yang telah kami lalui dari kemarin hingga tadi siang.
Keesokan paginya, kami berjalan-jalan ditepi pantai menikmati sunrise, diawali dengan memerahnya cakrawala, betapa indahnya sang surya terbit disela-sela bukit dan Gunung Rinjani, sungguh luar biasa keindahan yang tuhan berikan……
Menjelang siang, kami mencari tempat penyewaan alat snorkeling (Fin, Mask, Life Jacket). Tanpa berlama-lama, kami berganti kostum dengan kostum & peralatan snorkeling. Dimulai dengan sedikit pembekalan dari rekan yang sudah berpengalaman snorkeling, kami pun menuju bibir pantai, dan mulai berenang menuju snorkeling spot. Sungguh mengejutkan, selain puluhan jenis ikan aneka warna, kami menemukan seekor penyu yang sangat besar (giant turtle) dengan diameter temurung lebih dari 1 meter sedang membolak balikan karang (mencari makan). Tak terasa kami cukup lama ber-snorkling ria, hingga sebagian warna kulit berubah menjadi hitam walaupun sudah menggunakan sunblock spf 50.
Tanpa terasa, matahari sudah berada tepat diatas kepala, kamipun memutuskan untuk mencari makan siang dan kembali ke penginapan untuk beristirahat.
Senja tiba, kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk bersnorkling lagi (ketagihan). Tanpa diduga, kami menemukan seekor penyu lagi sedang makan di tepi palung, ukurannya jauh lebih besar dari penyu yang kami temukan tadi pagi. Diperkirakan penyu ini berumur lebih dari 300 tahun. Rekan kami (Fabian & Cakra) mencoba untuk menyentuh penyu itu, namun saat hendak disentuh, sang penyu menolehkan kepalanya yang membuat kedua orang rekan kami takut dan berenang menjauh, dipermukaan kami tertawa lepas, ternyata kami tidak berkuasa dilautan, oleh seekor penyupun kami takut.
Usai snorkeling, kami beranjak bersepeda mengelilingi Gili Terawangan sambil menikmati sunset, dilanjutkan dengan makan malam & nongkrong di sebuah café di tepi pantai. Sambil minum beberapa botol minuman, ngobrol, kami menikmati malam di Gili Terawangan hingga mata kami terasa ngantuk dan kembali ke penginapan.
Esok paginya, kami terbangun teringat kalau kami harus kembali ke denpasar. Dengan cepat kami packing perlengkapan yang kami bawa, karena kami berencana menggunakan kapat pertama untuk menyebrang ke lombok. Setibanya di tempat berlabuh kapal, cakra membeli tiket, dan tak lama kemudian kami naik ke kapal dan berlayar menuju Bangsal. Sekitar 1 jam, kami tiba di bangsal, dan langsung mencari warung untuk sarapan & mengisi botol air minum.Perjalanan kami lanjutkan, namun kali ini kami tidak melalui jalur Senggigi, jalur yang di tempuh Bangsal-Pusuk-Mataram-Lembar. Jalur Bangsal-Pusuk kami disuguhi dengan tanjakan sepanjang 10 Km tanpa ada jalan datar apalagi turunan, Benar-benar menguras tenaga. Tapi, cukup nyaman walaupun menanjak, karena hutan lebat yang memayungi kami dari sengatan matahari, tanpa terasa kami tiba di puncak bukit yang kami daki, setelah itu…. (bias ditebak) kami luncurkan sepeda[h] melalui turunan (sorga) tanpa henti hingga memasuki di kota Mataram.
Waktunya makan siang, kami menggoes menuju salah satu rumah makan ayam bakar taliwang di Jl. Ahmad Yani (kata cakra : banyak artis makan disini). Usai makan siang kami pun melanjutkan perjalanan menuju toko yang menjual oleh-oleh (Tahu Lombok & Telur Asin).
Tak lama, kami goes sepeda[h] lagi menuju lembar dengan kecepatan penuh, dengan harapan tiba di denpasar tidak terlalu malam. Setelah 1 jam menggoes, tibalah kami di pelabuhan lembar, tanpa menunggu lama setelah membeli tiket, kami naik ke dalam ferry dan mencoba untuk beristirahat.
Malam menyambut kami saat tiba di Gilimanuk, kamipun langsung mengayuh sepeda[h] yang kami bawa dengan kecepatan penuh. Karena kelelahan dan rasa lapar sudah sangat terasa, kami beristirahat dan makan malam di sebuah warung dipantai lebih. Sekitar 30 menit kami beristirahat, dan melanjutkan perjalanan menuju denpasar. Saat memasuki kota Denpasar, sama seperti saat berangkat, kami disambut dengan hujan lebat. Tepat pukul 23.00 wita kami tiba di denpasar dengan selamat.
Rasa bangga, bahagia, haru dan lainnya tidak bisa kami ungkapkan, namun kami bertekad akan mengulang kembali kesuksesan tour kali ini di waktu yang akan datang.
Terimakasih kamu ucapkan kepada Ketua Dalas Bali Bikers Gang (Haji Yoyo) berserta keluarga yang telah memberikan semangat dan melepas perjalanan kami, kepada bang Jefry yang sudah setia mengawal kami, kepada rekan-rekan Dalas Bali Bikers Gang yang banyak memberikan semangat dan dukungan hingga suksesnya tour ini, serta kepada semua pihak yang telah membantu kami.
